Info Pojok Viral – Ketegangan perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran bukan hanya memicu konflik militer, tetapi juga mengguncang perekonomian dunia. Salah satu pemicunya adalah penutupan dua jalur pelayaran vital dunia: Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Langkah ini langsung membuat pasar global gonjang-ganjing karena kedua selat tersebut merupakan urat nadi distribusi energi dan perdagangan internasional.
Perusahaan Pelayaran Mulai Alihkan Rute
Dilaporkan oleh CNBC, sejumlah perusahaan pelayaran besar mulai menangguhkan operasional melalui Selat Hormuz setelah eskalasi serangan antara AS-Israel dan Iran.
Raksasa pelayaran dunia, Maersk, mengumumkan penghentian sementara semua pelayaran kapal di Selat Hormuz hingga situasi dinyatakan aman. Mereka juga memperingatkan adanya potensi keterlambatan layanan di pelabuhan kawasan Teluk Persia.
Sebagai langkah darurat, beberapa perusahaan mengalihkan rute kapal memutar melalui ujung selatan Afrika — jalur yang jauh lebih panjang dan mahal.
Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting?
Selat Hormuz terletak di antara Iran dan Oman, menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia.
Data tahun 2023 menunjukkan, rata-rata 20,9 juta barel minyak per hari melewati jalur ini. Angka tersebut setara dengan sekitar 20% konsumsi minyak global, menurut Badan Informasi Energi AS.
Jika jalur ini terganggu, maka dampaknya langsung terasa pada:
Harga minyak dunia
Harga gas dan LNG
Biaya transportasi global
Inflasi di berbagai negara
Tak heran, setiap gejolak di kawasan ini selalu membuat pasar energi global bergejolak.
Peran Selat Bab el-Mandeb
Selain Selat Hormuz, jalur Selat Bab el-Mandeb juga ikut terdampak. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Pada paruh pertama 2023, jalur ini menyumbang sekitar:
12% perdagangan minyak melalui laut
8% perdagangan gas alam cair (LNG) global
Artinya, gangguan di dua titik ini sekaligus bisa memicu krisis logistik dan energi berskala internasional.
Tarif Pengiriman Berpotensi Naik
Kepala Analis Xeneta, Peter Sand, memprediksi tarif pengiriman kontainer menuju kawasan Timur Tengah akan meningkat selama konflik berlangsung.
Menurutnya, hingga saat ini belum ada jalur alternatif yang benar-benar efisien dan aman untuk menggantikan rute melalui Selat Hormuz.
Jika kapal tanker minyak hanya diblokir sementara saja, efeknya tetap besar:
Harga energi melonjak
Biaya pengiriman meningkat
Risiko kelangkaan pasokan
Kombinasi ini berpotensi menekan ekonomi global, terutama negara-negara pengimpor energi.
Dampak Global Tak Terhindarkan
Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar isu regional, melainkan ancaman terhadap stabilitas ekonomi dunia. Jalur ini ibarat “keran minyak global”. Ketika ditutup, suplai terganggu dan harga langsung melonjak.
Selama konflik antara AS-Israel dan Iran belum mereda, volatilitas pasar energi dan logistik diperkirakan masih akan terus berlanjut.
Ikuti terus perkembangan geopolitik dan dampaknya terhadap ekonomi dunia hanya di Info Pojok Viral.